HARI BURU AWAL HARI
BURUK
Liberalisasi
ekonomi pada akhirnya menghasilkan sebuah kelas sosial baru bernama buruh.
Buruh adalah mereka yang bekerja pada perusahaan baik swasta maupun
pemerintahan guna memperoleh gaji atau upah. Kenaikan upah sendiri selalu
menjadi topik hangat dalam kehidupan para buruh dan itu juga mempengaruhi aksi
mogok kerja. Kata “buruh” maupun “upah” seakan-akan melekat satu sama lain dan
memiliki makna dan konotasi masing-masing. Adapun isu-isu kenaikan upah buruh
menjadi isu yang memiliki kemenarikan tersendiri.
Sedangkan
sejarah singkat dunia bercerita tentang 1 Mei sebagai hari buruh Internasional.
Hari buruh merupakan hari dimana para pekerja diseluruh dunia merayakan yang
namanya hari buruh. Hari buruh sendiri dapat dikatakan sebagai harinya hari
para bawahan yang memiliki majikan. Tepat pada tanggal 1 Mei hari peringatan
kenangan para buruh layaknya hari anniversary sepasang kekasih yang dirayakan
setiap tahunnya. Hari buru bentuk perjuangan menuntut hak akan tetapi hasilnya
tetap saja kaum buruh masih diberi upah dibawah UMK, tak adanya jaminan sosial,
jam kerja sudah 8 jam dengan tidak ada upah lembur dan masih banyaknya keadilan
yang belum terealisasikan. Sesuaikah ini dengan sila kelima pancasila “Keadilan
Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”?
Tentu saja ini menjadi pembahasan yang agak sedikit
menarik jika kita membahas mengenai segala sesuatu yang berkaitan dengan
keadian. Bukankah keadilah sepenuhnya telah ada didalam UUD 1945. Lantas
bagaimana dengan sekarang bagaimana dengan kondisi yang ada sekarang keadilan
seakan-akan sudah tidak ada lagi gunanya. Kita tahu pasca reformasi
ditengah-tengah euforia revolusi kemerdekaan organ-organ serikat buruh kembali
menggeliat dengan lahirnya belasan federasi serikat buruh di awal 1950 hingga
akhir 1960-an. Hampir seluruh serikat buruh masa ini beralifiliasi atau menjadi
underbouw partai politik, seperti Sentral Organisasi Buruh Indonesia (SOBSI)
dengan PKI, Serikat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi) dengan NU, Gabungan
Serikat-Serikat Buruh Islam Indonesia (Gasbiindo), dengan Parmusi, Sentral
Organisasi Buruh Republik Indonesia (SOBRI) dengan Murba, dan Sentral Karyawan
Swadiri Indonesia (SOKSI) dengan Militer/TNI.
Perserikatan buruh sendiri dibawah pimpinan presiden
pertama Soekarno , gerakan buruh itu sendiri tidak hanya mendapatlkan ruang
gerak cukup luas dari pemerintah, namun memiliki peran besar dalam mempengaruhi
kebijakan politik negara. Pemerintahan Soekarno dikenal sebagai pemerintahan
yang sangat respek terhadap gerakan buruh dan ideology politik sayap kiri.
Dalam buku Di
Bawah Bendera Revolusi pun, Soekarno menerangkan mengenai demokrasi politik
dan demokrasi ekonomi. Dalam
pandangannya, Demokrasi adalah pemerintah rakyat, yaitu suatu cara pemerintahan
ini memberikan hak kepada semua rakyat untuk ikut memerintah (Soekarno, 1964: 171).
[1] Dan dalam buknya itu pula pada halaman 175
:
“pernah
saja terangkan, bagaimana seorang pemimpin, Jean Jaures yang bukan seorang
komunis, djuga menghendaki demokrasi politik dan demokrasi ekonomi. Dan dalam
karangan saja dulu sudah saja katakana pula, bahwa Dr. Sun Yat Sen mentjela
demokrasi yang demikian itu”.[2]
Jelas terlihat bahwa kita negara demokrasi dimana
pemerintah memiliki kewajiban memberikan hak kepada semua rakyat termasuk dalam
urusan memerintah. Lantas bagaimana keadilan itu sendiri?
Kaum buruh seakan-akan didiskriminasi oleh kaum
kapitalis. Selanjutnya dalam pemikiran seorang Soekarno dapat dilihat melalui
gagasan tentang konsep kaum kapirtalis yang menurutnya terbentuk dari pribadi
sendiri. Yah kaum kapitalis si kaum borjuis yang memiliki kekuasan dan
memaksakan kekuasaannya kepada mereka yang tidak bisa melawan. Layaknya kisah
seorang ART dengan Majikannya. Kira-kira seperti itulah prinsip kerja yang
diterapkan oleh kaum kapitalis. Kaum kapitalisme menurut Soekarno
merupakan stelsel pergaulan hidup yang
bisa saja timbul dengan cara produksi yang mengakibatkan adanya perbedaan
antara kaum buruh dengan kaum pemilik modal yang terpisah lewat alat-alat
produksi.
Kaum kapitalisme dilahirkan dan dibesarkan dari cara
produksi yang membuat banyak sekali kisah-kisah tragis yang bercerita tentang penindasan
terhadap kaum buruh, sehingga bapak presiden pertama Indonesia sangat menentang
faham ini., terlebih jika faham ini sewaktu-waktu ada di Indonesia. Kapitalisme
dianggap dapat melahirkan sebuah imperialisme modern yang bisa memberikan
kecelakaan terhadap kehidupan bebangsa dan bernegara. Dan salah satu cara dalam
mencegah hal itu terjadi yakni dengan meningkatkan sifat nasionalisme dari
masing-masing individu.
Tetap saja kaum kapitalisme berkuasa mereka
seakan-akan raja yang memiliki kekuasaan melebihi Tuhan terhadap mereka yang
lemah. Penindasan dilakukan guna mendapatkan sebuah citra yang baik terhadap
sesamanya. Dan dalam hal ini negara dijadikan salah satu alat pemaksa fisik
guna memenuhi kepentingan kaum borjuis ini sendiri. Ceritanya seperti negara
tidak akan memihak kepada mereka kelas pekerja buruh karena negara hanyalah
sebuah sarana yang dijadikan sarana produksi kelas borjuis untuk mempertahankan
status quo mereka. Negara sendiri tak punya kuasa terhadap itu negara
seakan-akan hidup dengan bayangan kaum borjuis itu sendiri. Sehingga apapun
yang dilakukan oleh kaum pekerja buruh apapun hak mereka negara sama sekali
tidak punya kemampuan memenuhi keinginan mereka.
Wahai ibu pertiwi lihatlah bagaimana kaum borjuis
menindas kami kaum buruh apalagi ditengah-tengah covid-19 ini sudah tidak ada
lagi yang namanya keadilan sudah tidak adalagi suara rakyat yang didengar oleh
mereka yang berkuasa. Padahal kita tahu setia tanggal 1 Mei kita selalu
melakukan aksi sebagai bentuk menuntut kesejahteraan guna mempertahankan arti
perjuangan. Sudah banyak terjadi PHK yang setiap detik,menit bahkan jam
dilakukan oleh kaum kapitalis kepada mereka semua.
1
Mei adalah hari dimana mereka berkumpul tersenyum
kepada makhluk hidup, menyalin sapa dan merangkul kuat sambil menyerubuk kopi disebuah wadah yang berbahan
plastik. “Ayo kita berkumpul bersorak memenuhi
jalan di negeri ini, memanjangkan bendera serikat buruh, berpidato politik
layaknya kaum kapitalis, melampiaskan amarah digedung-gedung si pejabat dan
rentangkan barisan” Tahun-tahun demi
tahun mereka lalui dengan cara yang hampir mirip. Bagaimana dengan 2020
katakan? Masih adakah seperti itu? Masih mampukah kita meraung-raung ditempat
si kapitalis berkuasa? TAHAN KAWAN.
Jangan gegabah kita semua tahu bahwa kalian saat ini
sedang susah-susahnya kalian sedang berada dalam keadaan kerja mati tapi tidak
kerja akan cepat mati karena kelaparan. Perjuangan masih panjang jangan sampai
hidupmu sia-sia jangan sampai suara tangisan yang selama ini kau pendam mati
karena taktik si kapitalis. Jangan menerobos keadaan, hidupmu lebih penting
dari apapun. May Day 2020 harus bisa disesuaikan dengan adanya pendemi ini.
Meskipun sebenarnya gejolak jiwa kalian meronta-ronta melihat kawan kalian ter
PHK oleh mereka yang memiliki,melihat kawan kalian resah karena kebutuhan sudah
hampir tidak memenuhi karena uang pesalon dari si pemilik belum juga dicairkan
ditambah lagi dengan RUU Omnibus Law yang kurang tidak masuk akal. Wahai tuan
dan puan pemilik kekuasaan kau ini mau membunuh buruh dengan cara halus atau
bagaimana? Mentang-mentang kami tak sepenuhnya berkawan turun kejalan lantas
kau seenaknya saja bersabda?
Wahai para tuan dan puan yang terhormat bisakah kalian
hanya fokus saja dulu pada masalah-masalah yang ada sekarang. Covid-19 ini
bukanlah virus yang bisa disepelekan. Seharusnya kalian lebih fokus mengurus
rakyatmu yang ekonominya sedang susah-susahnya. Ini kalian malah fokus membahas
masalah yang sudah tertunda berbulan-bulan kalian asyik-asyik duduk-duduk
diruangan kalian.
Rakyatmu banyak keadaan negaramu sekarang sedang
genting karena wabah kau malah asyik dengan temanmu membahas omnibus law. Kami
tak terima selaku kaum yang ditindas oleh kalian si kapitalis. Kita juga
manusia sama seperti yang lain hanya saja cara kerja kami yang berbeda. Sejak
pemerintah mengeluarkan work from home kalian tahu itu hanya bisa dilakukan
oleh ASN dan saudara-saudarnya sedangkan mereka si tenaga upahan itu tidak
berguna sama sekali. Maafkan mereka jika memaksakan kehendak turun kejalan
ditengah pendemi ini guna menuntut pemerintah serta DPR berhenti melakukan
pembahasan Omnibus Law dan fokus untuk menangani pendemi covid-19. “Salus
populi suprema lex esto” (Cicero) hukum tertinggi Jangan bercanda negaramu sedang
tidak baik urusi rakyatmu dulu baru masalah politikmu.
Kalian egois kalian hanya mementingkan diri kalian
wahai tuan dan puan yang saya hormati tolong lihatlah mereka rakyatmu bukankah
engkau terpilih untuk mewakili suara rakyatmu? Saat semua negara kedatangan
tamu tak di undang si covid kaum si
kapitalis pula berkrisis. Lambatnya pertumbuhan angka ekonomi, banyaknya PHK
hingga angka pengangguran yang lebih meningkat, adanya ketidakstabilan ekonomi,
dan adanya drama antara Amerika dan Cina kaum buruh kau kena imbas lagi. Di
Indonesia dikatakan sudah lebih dari 2 juta buruh di PHK dan dirumahkan hingga
awal april dimana kelas pekerja memasuki masa krisis saat bulan depan mereka
sudah tak berkerja lagi miris memang.
Apa yang sebenarnya yang kalian pikirkan? Maukah
kalian melihat kami mati di negara sendiri ataukah kalian ingin melihat kami
menangis di negara sendiri. Asal kalian tahu ini merupakan mimpi buruk bagi
perkumpulan kami. Seharusnya 1 Mei kami menuntut kami memperingati hari buruh
tapi kenapa menjadi hari buruk bagi mereka. Mereka buruh
hanya korban dari keganasan kaum kapitalis padahal mereka bukan budak mereka
seorang pekerja yang juga punya keluarga. Warna apapun kulit mereka, berbeda
bahasa dan kepercayaan masing-masing mereka menyatu. Mereka kaum buruh punya
satu tujuan yakni keadilan dan kesejahteraan. Buat apa kita punya duit banyak
tapi meninggal? Kami tak rela negeeri ini, saudara kita nyatanya ingin
terhindar dar virus tapi kemudian dia terancam oleh kelaparan itu sendiri. Selamat
hari buruh!
Islam”, vol. 17 no. 1 th.2016 hlm. 142
[2] Ema Agustina, Jurnal Pendidik dan Peneliti Sejarah “Soekarno, Nasakom, Dan Buku Di Bawah Bendera Revolusi Sebagai Materi
Ajar Pelajaran Sejarah SMA” vol.3 nmr. 1 thn.2019 hlm.60
DAFTAR PUSTAKA
Muh.Mawangir,
Jurnal “Soekarno Dan Pemikirannya Tentang Agama, Politik dan Pendidikan Islam”,
(vol. 17 no.1 th.2016 )
Ema
Agustina, Jurnal Pendidik dan Peneliti Sejarah “Soekarno, Nasakom, Dan Buku Di
Bawah Bendera Revolusi Sebagai Materi Ajar Pelajaran Sejarah SMA” (vol.3 nmr. 1
thn.2019)

Komentar
Posting Komentar